Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Juni 2011

NATAL: BECOMING Atau BEING?

NATAL: BECOMING Atau BEING?

          Berikut ini berupakan sebuah refleksi filosofis akan sebuah perayaan besar dalam iman kekatolikan, yaitu perayaan Natal. Tulisan ini tidak terlalu mempersoalkan tentang apa itu Natal menurut ajaran iman Katolik, namun lebih diterang oleh dua gaya pemikiran besar dalam dunia filsafat, yakni dunia Yahudi dan Yunani.

Sekilas Tentang Gaya Dua Gaya Pemikiran
Kita tahu bahwa gaya pemikiran Yahudi dapat dikatakan bersifat dinamis dibanding gaya pemikiran Yunani yang statis. Apa maksud pernyataan ini? Dalam memandang realitas, pemikiran Yahudi mempunyai visi yang menyeluruh. Bagi mereka yang penting itu bukan apa yang ‘ada’(being) melainkan apa yang ‘terjadi’(menjadi), bagaimana hubungan realitas itu terhadap manusia; bukan halnya sendiri yang penting tetapi hubungannya dengan orang. Sebaliknya gaya pemikiran Yunani lebih mempersoalkan hal-hal yang esensial. Realitas tidak dilihatnya sebagai suatu ‘rangkaian’ tetapi lebih sebagai ‘kosmos’,  yang berjalan demikian adanya. Kosmos manusia dan dunianya berjalan seturut kosmos ilahi (ada tingkatan kosmos)
          Selanjutnya, dalam menanyakan sesuatu orang Yahudi lebih memfokuskan diri pada apa yang dikerjakan sesuatu atau seseorang dan di mana kedudukannya dan peranannya. Hal ini berdampak pada persoalan yang mereka hadapi mengenai Allah. Bagi mereka keberadaan Allah dan dewa-dewi tidak diragukan lagi. Yang penting bagi mereka adalah apakah Allah secara aktif hadir, bagaimana Allah bertindak dan berbuat dan berkarya di dunia. Mereka tidak mempersoalkan adanya Allah tetapi relevansinya Allah. Sebaliknya orang Yunani akan bertanya: apa itu, siapa itu? Bagi mereka, ‘ada’nya sesuatu  dan seseorang di dalam dirinya sendiri telah menjelaskan peranan dan kedudukannya. Terhadap Allah pun mereka akan bertanya: Apa itu realitas Allah? Siapakah Allah itu? Bagaimana relasi antara manusia dan Allah dipikirkan? 

Natal: Becoming atau Being
          Dari dua pemikiran di atas kita tahu bahwa ‘becoming’ (menjadi) itu adalah gaya pemikiran Yahudi, sedangkan ‘being’ (ada) adalah gaya pemikiran Yunani. Natal, Becoming atau Being? Natal adalah memperingati hari lahir Yesus. Jadi, dapat dikatakan bahwa Natal merupakan penegasan akan peristiwa inkarnasi yang telah mulai saat Maria mengandung dari Roh Kudus. Inkarnasi itu sendiri adalah Allah ‘menjadi’ (becoming) manusia.
Orang Yahudi tidak mempersoalkan: apakah inkarnasi itu? Siapakah Yesus itu? Mereka lebih mempersoalkan ‘makna’ Natal (inkarnasi) itu. Apakah relasinya dengan mereka? Natal sebagai suatu realitas yang perlu dipahami itu dimaknai dalam kehidupan mereka. Konsekuensi pemikiran ini terhadap kristianitas adalah bahwa jika Yesus tidak lahir (tidak ‘menjadi’) maka agama Kristen tidak ada. Demikian juga dengan aneka konsep seperti: tidak ada pengampunan dosa, tidak ada kehidupan kekal, dsb.
Lain halnya dengan orang Yunani. Mereka lebih mempersoalkan: siapakah Yesus itu? Siapakah Allah yang berinkarnasi itu? Apa itu inkarnasi? Pertanyaan-pertanyaan ini lebih menyentuh esensi sebuah realitas (Allah sebagai realitas tertinggi). Pemikiran Yunani ini bukanlah tanpa efek bagi agama Kristen. Pemikiran ini mengundang lahirnya aneka doktrin dan apologi-apologi yang berusaha menjelaskan mengenai Allah yang berinkarnasi. Jadi, Natal bagi orang Yunani merupakan suatu sejarah yang membutuhkan pemahaman manusia.
Akhirnya sebuah pertanyaan yang perlu kita lontarkan adalah apakah makna kedua pemikiran ini bagi kita? Natal adalah peristiwa ‘menjadi’ yang dekat dan bersatu dengan kita. Dengan kata lain menyentuh pengalaman keseharian hidup kita. Natal selalu memberikan makna tertentu bagi kita. Demikian jika kita memandangnya dari perspektif pemikiran Yahudi. Natal itu juga adalah peristiwa iman. Peristiwa iman yang mengundang kita untuk menjelaskan kepada siapa pun tentang “siapakah Allah yang ‘menjadi’ (berinkarnasi) itu”.*Hediharto*

TANDA KEBAJIKAN SEJATI MENURUT ZHUANGZI


 Pendahuluan
            Kebajikan menjadi satu tema penting dalam Kitab Zhuangzi, pada bagian dalam bab yang V.  Mengapa tema kebajikan ini diangkat oleh Zhuangzi? Hal mendasar yang perlu kita ketahui soal ini adalah ketiga aliran yang melatarbelakangi pemikiran Zhungzi. Pengaruh pertama datangnya dari Konfusius (konfuisanisme). Pengaruh besar yang diberikan konfusianisme adalah tentang pentingnya kebijaksanaan dan kesetiaan kepada kultur dan ritual. Pengaruh kedua datang dari kaum mohist. Kaum mohist memberikan kritikan terhadap kaum konfusianisme dan sangat menekankan kultural yang tradisional. Yang ketiga datang dari Laozi, yang sangat menekankan orang untuk back to basic.  Pemikiran Zhuangzi sangat dipengaruhi oleh ketiga aliran ini. Ajaran-ajarannya filosofisnya menekankan moral setiap individu, dengan menekankan kesetaraan dan kebebasan yang mengalir dari sumber cinta (Dao cinta).
          Pembahasan berikut ini lebih difokuskan pada bagian V kitab Neipian (Kitab bagian dalam), yang banyak diakui sebagai kumpulan tulisan Zhuangzi sendiri. Namun, sebelum masuk pada pokok ini, kami merasa perlu untuk mengupas sekilas tentang siapa itu Zhuangzi dan karyanya.

 Riwayat Hidup Zhuangzi dan Karyanya
1.        Sekilas tentang Riwayat Hidup Zhuangzi
            Sedikit sekali kita mengetahui tentang seluk-beluk kehidupan Zhuangzi. Menurut Sima Qian, seorang sejarahwan dari Dinasti Han, Zhuangzi lahir satu abad setelah kematian Konfusius, pada periode Perang Antar Negara (403-221SM). Nama aslinya Zhou (, Zhōu). Kadang namanya ditulis Chuang Tzŭ, Chuang Tsu, Zhuang Tze.Zhuangzi diperkirakan hidup pada jaman Raja Hui dari Liang 梁惠王 dan Raja Xuan dari Qi, sekitar 370 – 301 SM.[1] Dia datang dari daerah Meng dimana dia bekerja sebagai serorang pejabat kecil. Karena ingin menarik diri kepada kehidupan pribadi, ia menolak tawaran Raja Wei Chu untuk menjadi perdana mentri.

2.        Karyanya
            Karya Zhuangzi dapat kita temukan dalam sebuah kitab yang disebut juga Kitab Zhuangzi. Nama lain dari kitab ini adalah Nanhua Zhangjing atau Nanhua Jing. Kitab ini terdiri dari 33 bab, yang terdiri dari tiga bagian utama, yaitu bagian dalam (neipian), yang terdiri dari tujuh bab; bagian luar (waipian), yang terdiri dari 15 bab; bagian umum (zapian), yang terdiri dari 11 bab. Tujuh bab bagian dalam diyakini ditulis sendiri oleh Zhuangzi dan bagian luar adalah kumpulan-kumpulan kisah  tentang Zhuangzi para murid. Sedangkan kesebelas bab bagian umum merupakan komentar atau pandangan dari para pengikut Zhuangzi.           
Tanda Kebajikan Sejati Menurut Zhuangzi
            Pemikiran mengenai tanda kebajikan sejati ini dapat kita temukan dalam bab 5 Neipian. Berikut ini merupakan pemahaman penulis mengenai makna dari dialog yang ada dalam kitab tersebut. Beberapa tanda kebajikan sejati tersebut adalah: 
1.   Bijaksana
Di negara Lu ada seorang bernama Wang Tai yang kehilangan satu kakinya. Namun mempunyai banyak pengikut kira-kira sebanyak murid Konfusius. Chang Ji mempersoalkan hal ini. Menurut konfusius, Wang Tai adalah seorang yang bijak. Tetap pantas kalau Konfusius ingin menyerahkan daerah kekuasaannya dan bahkan seluruh dunia kepada Wang Tai. Lebih dari itu,  Konfusius ingin menjadi muridnya. Hal ini sulit diterima oleh Chang Ji. Maka Konfusius menegaskan bahwa hidup dan mati tidak mempunyai pengaruh bagi Wang Tai untuk menjadi gurunya. Bahkan hingga  surga dan bumi berguncang pun tidak mempengaruhi keberadaan Wang Tai. Nasib Wang Tai menurut Konfusius tidak sama dengan orang-orang yang mempunyai kekayaan dan tidak terpengaruh oleh arus masa. Wang Tai melihat segala sesuatu sebagai satu kesatuan. Ia melihat segala sesuatu bukan dari perbedaannya tetapi dari kesamaannya. Segala sesuatu itu tidak hanya dilihat dengan mata tetapi juga dengan hati dan budinya. Juga tidak dinilai dari kekurangannya.[2] 
            Apa yang di maksudkan dengan bijaksana oleh Zhuangzi? Zhuangzi setuju dengan apa yang disampaikan oleh Konfusius dalam dialognya dengan Ch’ang Chi. Menurut Konfusius, kebijaksanaan tidak terlihat dari struktur organis semata. Artinya kenormalan tubuh, dalam hal ini organ-organ tubuh manusia, tidak menjadi ukuran bagi kebijaksanaannya. Lalu dimana letak kebijaksanaan itu? Orang yang bijaksana adalah:
·        Orang yang tidak terpengaruh oleh arus masa. Walaupun langit dan bumi itu berguncang, ia tidak merasa kehilangan. 
·        Orang yang memandang segala sesuatu secara jernih, seperti pandangan yang biasa dipakai oleh Taoisme, yang disebutnya sebagai ‘bijaksana di dalam’.
·       Orang yang memandang segala sesuatu tidak dari perbedaannya tetapi dari persamaannya. Orang yang demikian adalah orang tidak sekedar mengaku berdasarkan apa yang ditangkap oleh telinga dan matanya, tetapi lebih melihat segala sesuatu dengan hati dan pikiran. Dia tidak memandang segala sesuatu dari kekurangannya.
·         Jadi, dia adalah orang yang menerima kodrat apa adanya. Setiap orang telah diatur demikian adanya sejak dilahirkan. Dia harus menjalan kodrat yang ada dan bukannya menentang kodratnya. Sehingga manusia tidak perlu takut berhadapan dengan peristiwa hidup yang menjadi bagian atau tuntutan kodratnya.
2.      Persatuan dengan De
Mereka adalah Shen Tu Jia dan Zi Chan. Shen Tu Jia  kehilangan kaki sebelahnya. Mereka belajar pada seorang guru, Hun Wu Ren. Menurut Zi Chan, jika ia pergi keluar lebih dulu, maka Shen Tu Jia tetap di rumah dan kemudian baru menyusul. Pun sebaliknya.
Pada suatu hari, Zi Chan keluar dari istana. Maka Shen Tu menunggu di istana. Zi Chan bertanya kepada Shen Tu, apakah dengan tinggal di rumah, Shen Tu sama dengan Guru. Shen Tu mengecam Zi Chan karena dia keluar dari istana hanya untuk mencari kesenangan. Shen Tu menjelaskannya dengan sebuah ilustrasi tentang sebuah cermin. Sebuah cermin terlihat terang kalau tak ada debu yang menempel padanya. Ilustrasi ini hendak mengatakan bahwa seorang akan merasa tidak bersalah kalau berada bersama seorang yang bersih. Bagi Zi Chan ini adalah tanda kesombongan Shen Tu karena menganggap dirinya melebihi Yao. Namun bagi Shen Tu, ini adalah sebuah pengakuan akan kesalahan dan dosa. Orang yang mengaku kesalahan sedikit ditemukan. Zi Chan mengecam Shen Tu karena kesalahannya. Karena Shen Tu tetap berani, Shen Tua memberikan reaksi yang membungkam Zi Chan. Shen Tu mengatakan bahwa selama tinggal bersama guru dalam kurun waktu yang lama, ia tidak pernah memikirkan atau merasakan bahwa dirinya cacat. Relasi dengan gurunya tidak tercipta karena kecacatan. Shen Tu sungguh merasakan ketenangan. Zi Chen pun terdiam. 
            Dari sudut pandang Dao segala sesuatu sama dengan keadaannya. Dao menjadikan segala sesuatu dan segala sesuatu itu sama dengan keadaannya. Apakah segala sesuatu itu? Segala sesuatu sama dengan keadaannya. Ada sesuatu yang jelek dan ada yang indah, ada yang khusus dan ada yang indah. Namun semua ini oleh Dao dipersatukan dan menjadi satu.[3]
            Jadi persatuan dengan Dao itu amat penting bagi usaha pencapaian kebajikan tertinggi. Kebersamaan seorang pribadi berhadapan dengan orang lain didasari oleh prinsip kesetaraan, sebab di dalam De semuanya satu. Karena kesempurnaan atau kecacatan tubuh tidak menjadi ukuran bagi persatuan dengan De. Manusia yang penuh kebajikan adalah manusia yang menyatu dengan Kesatuan Yang Besar.

3.      Belajar terus Menerus pada De
Di Lu ada seorang bernama Shu-shan No-Toes yang  kakinya terpotong dan ia menjumpai Confusius dengan bungkam. Dia datang kepada Konfusius untuk mengakui kalau ia terlalu semberono dengan tubuhnya sendiri sehingga membuat salah satu kakinya hilang. Walau demikian, Shu-shan No-toes tetap merasa bahwa ia tetap mempunyai sesuatu yang berharga. Dia masih berharap untuk bisa belajar pada Konfusius yang dianggapnya sebagai langit dan bumi. Ketekunan No-Toes untuk datang belajar padanya dilihatnyas sebagai hal yang patut diteladani para muridnya. Sebab hanya sedikit orang yang bijaksana. 
            Manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Kesalahan yang bisa membawanya pada penyesalan karena kerusakan keutuhan diri yang disebabkan oleh kecerobohannya sendiri. Orang yang penuh kebajikan ini hanya sedikit ditemukan sebab misalnya meskipun dia tidak perlu berjalan menggunakan kaki, dia masih tetap bergantung pada yang lain, yaitu De. De juga merupakan tujuan dari suara bumi dan suara langit.[4] De sebagai kepenuhan kebajikan menjadi ketergantungan orang yang belajar dan mendambakan kesempurnaan itu. Manusia dengan usahanya yang terus-menerus untuk mempelajari De akan membantunya bersatu dengan Dao Tertinggi.
4.   Segala sesuatu sia-sia                                      
Ada seorang dari negara Wei bernama Ai Tai Ta yang bermuka  jelek. Namun sangat disukai oleh para gadis bahkan hanya untuk menjadi gundik saja. Ai Tai Ta tidak pernah berbicara tentang dirinya tetapi selalu menciptakan keharmonisan. Ia tidak pernah menjadi seorang pemimpin. Ia juga tidak pernah mendukung atau membantu orang lain dengan memberi uang. Namun  tentu memiliki kualitas yang luar biasa. Banyak orang ingin tinggal besamanya dan hendak mengangktnya menjadi pemimpin. Menanggapi ini, Konfusius mengisahkan pengalamannya sewaktu misi ke Chu`u. Ia melihat beberapa babi kecil sedang mengobati tubuh ibu mereka yang sudah meninggal. Beberapa saat kemudian mereka meninggalkan mayat ibu mereka sebab yang mereka lihat bukan lagi ibu mereka seperti sebelumnya. Mereka mencintai ibu mereka bukan semata-mata karena bentuk fisiknya tetapi karena cinta yang menggerakkan bentuk tubuhnya. Demikian pun seorang tentara yang meninggal dalam peperangan tidak ada urusan untuk dikuburkan. Atau seorang yang tidak mempunyai kaki. Dia tidak lagi beralasan untuk mencintai sepatunya.
Dari semua itu, Konfusius sebenarnya ingin mengatakan bahwa segala sesuatu yang dirasa penting akhirnya sia-sia dan lenyap. Ai Tai Ta tidak perlu mengatakan dengan kata-kata, tetapi orang mempercayainya; tidak perlu menunjukkan pencapaian-pencapainnya tetapi orang ingin dekat dengan dia; mempunyai sebuah kemampuan yang hebat walaupun secara lahiriah itu tidak tampak. Konfusius menambahkan bahwa kematian dan kehidupan, kehilangan dan kesuksesan, kekayaan dan kesehatan, pujian dan celaaan, kepantasan dan ketidakpantasan, lapar dan haus, panas dan dingin, semua ini akan berubah dan ditentukan oleh nasib.

            Segala sesuatu adalah sia-sia, demikian kata Konfusius. Kata-kata yang diucapkan manusia untuk menunjukkan keunggulannya, kesuksesannya, kemampuannya semuanya sia-sia. Singkatnya semua yang lahiriah adalah sia-sia. Bahkan kematian dan kehidupan, kegagalan dan kesuksesan, kesakitan dan kesehatan, pujian dan celaan, kepantasan dan ketidakpantasan, lapar dan haus, panas dan dingin semuanya berubah seturut nasib. Dasar dari keharmonisan pribadi semua orang adalah kekuatan rohaniah. 
Penutup
            Dari uraian yang telah ditandaskan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa konsep kebajikan sejati menurut Zhuangzi terletak pada persatuan dengan De. Kebajikan sejati adalah persatuan dengan De. Zhuanzi mengajarkan beberapa jalan menuju kebajikan sejati itu melalui tiga tanda, yakni kebijaksanaan, persatuan dengan De, usaha terus menerus melalui pembelajaran terhadap De dan ketidak-terikatan pada hal-hal lahiriah. Ajaran Zhuangzi ini sebagian besar diambil dari pemikiran Konfusius dalam dialog-dialognya.

                                                      




[1] Rm. Agus Lie, CDD., (Handout Mata Kuliah Filsafat China), STFT Widya Sasana, 2010.
[2] Ringkasan cerita-cerita yang ada pada setiap poin merupakan hasil terjemahan dari naskah Inggris versi terjemahan dari naskah tulisan China oleh Nina Correa, dengan judul: Calculations on Fulfilling Virtue.
[3] Fung-Yu Lan, Sejarah Filsafat China, Pustaka Pelajar: Yogyakarta, 2007, hlm.146-147
[4] Suara bumi seperti yang disebabkan oleh angin, karena ketika kata-kata diucapkan, maka kata-kata itu menunjukkan dunia gagasan manusia. Kata-kata itu mengarah pada penyangkalan, opini-opini yang dibuat oleh individu menurut sudut pandangnya sendiri yang partikular dan terbatas. Sedangkan pemahaman langit berarti memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang melampaui yang terbatas, yakni Tao. Ibid, hlm 143, 145.

PERANAN PENDIDIKAN MORAL DALAM MENGEMBANGKAN KODRAT MANUSIA MENURUT MENCIUS


Pendahuluan
Kodrat manusia adalah baik.[1] Inilah tesis utama yang diwartakan oleh Mencius dalam banyak tulisannya. Walaupun dari kodratnya manusia baik, manusia tetap berusaha mengembangkannya, terutama melalui usaha pendidikan untuk memperoleh pengetahuan. Pendidikan yang dimaksudkan di sini adalah pendidikan moral yang banyak membawa manusia pada kebijaksanaan. Peranan pendidikan yang ditekankan di sini tidak seperti konsep pendidikan yang dimaksudkan, misalnya oleh Chun Tzu. Menurut Chun Tzu, kodrat manusia adalah jahat. Maka, tujuan pendidikan adalah menghilangkan kecenderungan jahat dan menambahkan kebaikan melalui latihan dari luar. Sedangkan Mencius sepakat dengan Konfucius bahwa tujuan pendidikan (hanya) memunculkan apa yang baik, yang sudah terkandung dalam kodrat manusia.

Seputar Riwayat Hidup Mencius
1.      Sekitar Kelahirannya
Sedikit informasi saja yang hendak kami terangkan mengenai sekitar kelahiran Mencius. Mencius lahir pada tahun 372 SM di Tsou, Shantung, China Timur Laut. Nama aslinya Ke. Ibunya bernama Zhang, bekerja sebagai seorang tukang tenun. Sejak kecil dia dibesarkan hanya oleh ibunya, sebab ayahnya meninggal dunia lebih dulu. Ia meninggal sekitar tahun 289 SM pada usia  ke-83.

2.      Masa Kecil dan Lingkungannya
Pertumbuhan Mencius menjadi seorang pemikir besar pada zamannya langsung setelah Konfusius tidak terlepas dari usaha keras ibunya. Usaha itu dapat kita lihat melalui legenda yang menceritakan perpindahan ibunya sampai tiga kali agar Mencius, mendapat pendidikan yang benar. Dalam legenda itu diceritakan bahwa ketika ayah Mencius meninggal, ibunya memilih untuk tinggal di dekat kuburan. Selama itu Mencius sering meniru kebiasaan orang-orang yang datang ke pekuburan itu, misalnya orang yang membawa persembahan untuk leluhur atau orang yang meratapi keluarganya yang meninggal. Ibunya melihat hal ini sebagai gejala perkembangan yang kurang baik dari anaknya. Maka ibunya memutuskan untuk berpindah di dekat pasar. Namun situasi di pasar yang hiruk-pikuk antara para pedagang dan pembeli, penjudi tentunya mempengaruhi perkembangan Mencius. Pada akhirnya ibunya memilih untuk pindah di dekat sekolah. Di sana ibunya merasakan bahwa Mencius mendapatkan teladan yang benar untuk pertumbuhannya menjadi seorang yang pandai dan bijaksana. Di sana ia bergaul dan dipengaruhi oleh orang-orang terpelajar. Di sana juga ia terinspirasi untuk belajar.
Mencius adalah murid seorang guru yang handal yaitu Tzu Ssu (Zi Si), cucu Konfusius.

Pendidikan Moral Menurut Mencius
a.      Sekilas tentang Ajaran Moral[2]
Confusius tidak menegaskan atau memaksudkan secara jelas bahwa kodrat manusia adalah baik. Tetapi Mencius yang mengikuti confusius secara tegas mengatakan bahwa kodrat manusia adalah baik. Pada zaman Mencius terdapat tiga pandangan tentang kodrat manusia yang diyakini oleh masyarakat luas, yakni kodrat manusia bukan baik atau bukan buruk, kodrat manusia dapat dijadikan baik atau buruk dan yang lain mengatakan bahwa kodrat manusia baik dan yang lain mengatakan bahwa kodrat manusia buruk.
Ia menggambarkan kodrat manusia sebagai sesuatu yang dari aslinya mengandung kebaikan. Kejahatan dan keburukan yang ada pada manusia melulu disebabkan pengaruh dari luar. Ia mengatakan bahwa jika manusia membiarkan dirinya mengikuti kodrat aslinya maka mereka dapat berbuat baik. Jika berbuat jahat, maka hal itu bukanlah kesalahan dari pembawaan sejak lahir. Mencius menggambarkan kodrat kebaikan manusia melalui perbandingan-perbandingan sebagai berikut: 1) Perasaan akan simpati (belas kasih), itulah yang dinamakan kemanusiaan; 2) Perasaan akan malu dan segan, itulah yang dinamakan kebajikan; 3) Perasaan akan hormat dan wibawa, itulah yang dinamakan keadilan; 4) Perasaan akan benar dan salah, itulah yang dinamakan kebijaksanaan.
Di samping itu dia mengatakan bahwa perkembangan kodrat asali dari setiap manusia berbeda-beda. Mungkin ini menjadi salah satu sebab mengapa kejahatan ada dalam diri manusia. Bisa jadi disebabkan manusia tidak mengembangkan kodrat asalinya yang memiliki kebaikan. Untuk itu pendidikan moral sangat penting dalam upaya memunculkan kodrat kebaikan manusia.

b.      Mencius sebagai seorang Pendidik
Mencius adalah seorang pemikir dan guru besar pada zamannya. Sejak kecil pendidikan Mencius sungguh-sungguh diperhatikan oleh ibunya. Seperti sebuah kisah yang terjadi ketika Mencius pulang sekolah lebih awal dari biasanya.

“Kenapa kamu pulang lebih cepat dari hari ini?” Tanya ibu Mencius yang masih menenun dengan alat tenunnya. “Saya sangat merindukanmu, ibu”. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun ibu Mencius mengambil pisau dan memotong benang pada alat tenun itu tepat di tengahnya. Mencius sangat terkejut. “Bagimu menunda belajarmu di sekolah adalah sama seperti saya memotong benang pada alat tenunku. Kita sangat miskin. Itulah alasan kenapa saya harus bekerja keras. Kamu harus belajar dengan keras untuk membangun dirimu sendiri. Jika kamu tidak berkonsentrasi pada pelajaranmu dan berhenti di tengah jalan, kita tidak akan pernah keluar dari lingkaran kemiskinan. Kita akan terus hidup dalam ketidakpastian.[3]
Jadi, dari ibunya, kesempatan untuk belajar di sekolah bagi Mencius diutamakan. Bagi sang ibu, pendidikan itu bertujuan untuk mengeluarkan manusia dari kungkungan kemiskinan dan ketidakpastian. Mencius kemudian menjadi murid Zi Si dan menjadi seorang cendikiawan yang terkenal.
Sebagian besar hidupnya (sekitar selama dua pulu tahun), Mencius banyak berdedikasi dalam memberikan pengajaran kepada murid-murid yang tertarik dengannya. Bersama para muridnya, ia berjalan keliling untuk menyebarkan ide-ide politiknya. Bagi Mencius, untuk mencapai negara yang sejahtera harus ditetapkan dasar-dasarnya, misalnya, membayar pajak sebagian (sepersepuluh hasil tanah garapan) dan pembagian tanah yang jelas dan keringanan dari pajak. Selain itu, tugas seorang penguasa yang baik adalah memberikan kebutuhan rakyatnya.[4] Di akhir hidupnya, ia kembali ke tempat asalnya untuk membagikan pemikiran dan tulisan-tulisannya. Di akhir hidupnya juga para muridnya berkumpul di sekitarnya untuk merangkum pemikirannya dalam bentuk tulisan. Dengan bantuan Wang Zhang, Gong Sunchou dan murid-murid lainnya berhasil menyusun sebuah antologi yang mencantumkan nama Mencius. [5]

c.             Peranan Pendidikan Moral  Dalam Mengembangkan Kebaikan Manusia
1.      Tujuan Pendidikan Moral
Menurut Mencius, tujuan pendidikan adalah agar seseorang berkembang menjadi orang yang baik, sehingga dapat menempatkan diri secara benar dalam masyarakat. Dalam hal ini, Mencius sangat menekankan konsep ren  yaitu mencapai rasa kemanusiaan dan mempunyai kebajikan.  Ini sangat penting untuk dimiliki oleh para penguasa agar memerintah dengan bijak, memberikan hukuman sedikit mungkin dan mengurangi pajak yang terlalu tinggi. Tujuan pendidikan yang baik adalah untuk memenangkan hati banyak orang.
Bagaimana hal itu bisa tercapai? Hal pertama yang dilakukan adalah memastikan bahwa banyak orang tercukupi sandang, pangan dan papannya. Hanya dengan demikian sekolah-sekolah dapat dibuka dan generasi pun akan menjadi terdidik.
Only an education provided in such conditions could be considered sound. As to its purpose, it must be to 'teach sons their duties towards their fathers and younger ones their duties to their elders'.[6]
Jadi, adapun tujuan pendidikan itu adalah untuk mengajarkan bakti  anak-anak terhadap orang tua dan hormat dari yang muda kepada yang lebih tua.

2.      Fungsi Pendidikan Moral
Mencius sangat yakin bahwa pendidikan itu memainkan peranan yang sangat penting dalam perkembangan hidup sosial masyarakat. Tujuan pertama-tama pendidikan adalah memperkuat pikiran dan memperkembang kebajikan-kebajikan utama, yakni kebajikan, kebenaran, penghormatan terhadap ritus dan kebijaksanaan. Seperti dikatakan bahwa manusia pada dasarnya baik, namun kebaikan itu perlu diolah agar menjadi orang baik, bisa menjadi guru dan suci. Sebaliknya, orang yang tidak mengolahnya akan tidak lain seperti seekor binatang. Pengolahan kebajikan asli itu dapat diperkuat dengan pengetahuan yang diperoleh lewat pendidikan. Dengan kata lain, belajar merupakan usaha untuk mengembalikan kebajikan manusia yang telah hilang.
Pendidikan juga dapat melestarikan dan mengembangkan serta mengembalikan kecenderungan kodrat dasariah manusia. Untuk itu dia menawarkan usaha perbaikan diri yang dilakukan ‘ke dalam diri sendiri’ sebagai bentuk pengujian diri dari kecenderungan yang terpengaruh oleh hal-hal eksternal. Maka pengaruh lingkungan tempat kita berada sangat mempengaruhi kita dalam belajar membentuk karakter moral kita.

3.      Konsep Pendidikan Moral Menurut Mencius[7]
1). Dasar-dasar teoritis
Mencius menyadari bahwa setiap manusia mempunyai karakter yang sudah menyatu dengan dirinya. Alam, langit dan manusia membentuk satu kesatuan. Maka, kategori-kategori moral langit terukir dalam kodrat manusia, yaitu aturan-aturan langit yang berakar dalam moralitas manusia yang penuh dengan kebajikan moral. Hati manusia dan hati langit berhubungan (tianxin). Kemiskinan dan kekayaan diberi menurut perintah langit dan diluar pengendalian manusia. Apa yang harus kita lakukan adalah dengan ‘mencarinya dalam diri kita sendiri’ dengan mengembangkan dan mengubah kecenderungan-kecenderungan kita menuju suatu yang lebih baik. Di sini jelas bahwa ide Mencius tetang pendidikan moral berkaitan erat dengan idealisme subjektif.[8]
2). Prinsip-prinsip dan isi pendidikan Moral
a.       Seseorang harus melestarikan kodrat kebaikan dan mengendalikan hasratnya.
Ini adalah salah satu cara yang terbaik untuk menolak dominasi keinginan material. Bahkan keinginan itu akan hilang dengan sendirinya, sebab kodrat manusia adalah baik. Sebaliknya mereka yang dikuasai oleh keinginan material akan sedikit ditemukan kebaikan.
b.      Mencarinya dalam diri sendiri
Mencius melihat hal ini sebagai suatu cara perbaikan moral. Hal ini dapat dilakukan dengan bertanya ke dalam diri sendiri. Misalnya kepada seseorang yang tetap ingin menyendiri walaupun kita telah memperlakukannya dengan cinta. Kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita sungguh murah hati dalam mencintainya. Jika seorang pemimpin melihat bawahannya tidak taat, dia perlu bertanya apakah dia pemimpin yang bijaksana. Demikian pula ketika menghadapi kegagalan.
c.       Menyesali dan memperbaiki cara
Yang dimaksudkan di sini adalah pentingnya mengakui kecenderungan hasrat material dan tindakan cela, serta membuat komitmen untuk memperbaikinya.
d.      Mencari kualitas yang hilang, melestarikan manfaat ‘kesejukan udara malam’ (yegi).
Hati yang murni adalah kunci untuk perbaikam moral yang dapat dilakukan lewat pengendalian diri, latihan kesadaran, penyesalan dan perbaikan kesalahan.
e.       Mengembalikan kodrat kebangsawanan jiwa (haoran Zi qi).
Manusia harus mempertegas kekuatan karakternya. Mereka harus membuktikan energinya dan bukan dengan keputusasaan. Pikiran mereka adalah kekuatan mereka dalam memerangi kejahatan.
f.       Tegas dalam menyelesaikan
Manusia sering berhadapan dengan kemalangan dan penderitaan. Pengalaman-pengalaman itu seharusnya menjadi motivasi dalam mencari kebijksanaan (dehui) dan semakin haus akan pengetahuan (giuzhi) sehingga membantunya untuk keluar dari kesulitan. Orang yang berpengalaman harus menghadapi berbagai tantangan.

Penutup
Pemikiran Mencius mengenai kodrat manusia memberikan sumbangan besar bagi pembentukan moral manusia. Manusia yang dari kodratnya baik mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan kebaikan yang telah ada dalam dirinya. Seseorang akan menjadi bijaksana bila dia mengembangkan ren dalam dirinya. Sebaliknya akan sama dengan binatang jika dia tidak memelihara kodrat kebaikannya.
Usaha mengembangkan kodrat kebaikan itu harus selalu mulai dari dalam dengan bertanya diri mengenai segala sesuatu atau orang lain yang dihadapinya. Pancaran kebijaksanaan hati yang mulai dari dalam kemudian terlihat jelas dalam kebijaksanaannya menempatkan diri di tengah masyarakat. Jadi, peranan pendidikan moral menurut Mencius tidak lain dari pada untuk mengefektifkan kodrat kebaikan yang telah tercemar oleh factor-faktor eksternal sehingga seeorang dapat menempatkan diri sesuai dengan tempat dan situasinya.






[1] Fung Yu-Lan, Sejarah Filsafat China, Pustaka Pelajar: Jogjakarta.2007. hlm. 89.
[2] FORUM Filsafat, Kodrat Manusia Menurut Menciu, STFT Widya Sasana, Malang, 2002, hlm. 16-18.
[4] Dr. S. Reksosusilo, CM, Sejarah Awal Filsafat Timur, STFT Widya Sasana: Malang, 2008, hlm. 53-54.
[6] Ibid.
[7] Ibid.
[8] Idealisme subjektif di sini dimaksudkan bahwa segala sesuatu pertama-tama harus ditemukan dalam diri kita sendiri.